Kritik Mimetik
Kritik
Mimetik Pada Puisi “Gadis Peminta-Minta”
Karya Toto Sudarto Bachtiar
Kritik mimetik adalah
kritik yang memandang karya sastra sebagai pencerminan kenyataan kehidupan
manusia. Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini memandang karya sastra sebagai
tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan/penggambaran dunia
kehidupan. Sehingga kriteria yang digunakan kritikus sejauh mana karya sastra
mampu menggambarkan objek yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra
menggambarkan realita semakin baguslah karya sastra itu. Kritik jenis ini
dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra
adalah tiruan kenyataan.
PUISI
KARYA TOTO SUDARTO BACHTIAR
GADIS
PEMINTA-MINTA
Setiap kali bertemu, gadis kecil
berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi lulang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng
kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur
sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang
gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara
katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi
yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng
kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku hidupnya tak lagi
punya tanda
Bisa
kita lihat dari puisi di atas menggambarkan adanya kehidupan seorang anak kecil
yang berhati mulia yang pekerjaannya meminta-minta, dan kehidupannya begitu
sulit. Gadis kecil itu hanya tinggal di kolong jembatan dan tempat mainnya di
sekitar selokan. Kebahagiaan yang diharapkannya hanya sebuah angan-angan
belaka.
Hal-hal
di atas benar-benar terjadi sekarang ini, puisi tersebut menggambarkan
kehidupan di sebuah kota besar khususnya di Indonesia. Sering kali kita temui
anak-anak kecil yang meminta-minta di sekitaran lampu merah. Mereka tampak
sangat menyedihkan. Pakaian mereka,bau mereka,serta kondisi fisik mereka
semuanya tidak baik. Walaupun meminta-minta itu dilarang dan itu adalah
perbuatan yang dibenci allah tapi sebenarnya mereka tidak ingin menjadi seorang
yang meminta-minta, tapi keadaanlah yang membuat mereka melakukan hal itu.
Jadi
disini penyair berusaha menggungkapkan apa yang terjadi atau membeberkan sebuah
kebenaran tentang apa yang terjadi di kota-kota besar. Dari segi
mimetiknya,puisi ini bagus karena diangkat dari sebuah kenyataan yang mana memang
banyak sekali gadis kecil yang membawa kaleng lalu menyodorkan kaleng tersebut
sebagai tanda ia sedang meminta-minta. Pemilihan kata pada puisi tersebut juga
sangat tepat,karena menggambarkan dengan jelas sebuah kehidupan manusia atau
realita yang sebenarnya.
#untuk memenuhi
tugas matakuliah menulis kritik dan essai


Komentar
Posting Komentar