Kritik Objektif Terhadap Cerpen Pelajaran Mengarang Karya Seno Gumira Ajidarma





 Kritik Objektif Terhadap Cerpen Pelajaran Mengarang Karya Seno Gumira Ajidarma

Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita. Tema terbentuk dari sejumlah ide, tendens, motif, atau amanat yang sama, yang tidak bertentangan sama dengan yang lainnya.Tema dinyatakan secara tidak terus terang meskipun ada dan dirasakan oleh pembaca. Tema tidak lain merupakan ide pokok , ide sentral atau ide yang dominan dalam karya sastra.(Sugiarti, 2002:37-38)
Tema dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah mengenai Kehidupan Sosial yang dialami oleh satu keluarga yang dimana seorang Ibunya itu bekerja sebagai seorang pelacur dan anaknya baru duduk di bangku kelas V SD. Cerpen ini juga mengisahkan bahwa keadaan sosial atau pekerjaan dan lingkungan keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan dasar karakter seorang anak.
“..Ketika berpikir tentang keluarga kami yang bahagia, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan seketika sandra pulang dari sekolah.”
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama!.”
Kutipan diatas menunjukan bagaimana Sandra dapat menulis karangan tentang kebahagiaan keluarga, jika kehidupan sehari-hari yang Ia alami sama sekali tidak menunjukan kebahagiaan yang semestinya diciptakan dalam lingkungan keluarga. Keadaan rumah yang berantakan dengan benda-benda yang tidak seharusnya ia jumpai di masa anak-anak sehingga ia tidak mempunyai keluarga yang harmonis, hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak.

Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahap-tahap peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Alur dalam cerpen Pelajaran Mengarang itu menggunakan alur campuran dimana terdapat alur maju dan mundur di dalam cerita tetapi lebih dominan menggunakan alur mundur karena Sandra selalu membayangkan tentang 3 judul yang di berikan oleh Ibu Guru Tati. Berikut urutan plot dalam novel ini :
Tahapan awal merupakan tahap perkenalan atau berisi sejumlah informasi penting seperti penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama tempat, suasana alam waktu kejadiannya dan juga deskripsi fisik perwatakan. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini tahapan awal itu dimulai dari murid-murid kelas V SD yang sedang mengikuti pelajaran mengarang di dalam kelas yang diarahkan oleh Ibu Guru Tati, Ibu Tati adalah seorang guru yang berkaca mata tebal.
“..Dari balik kaca matanya yang tebal, Ibu guru Tati memandang 40 anak yang manis yang masa depannya masih panjang.”
Dan di dalam cerita ini tokoh Sandra di gambarkan sebagai siswa yang tidak menyukai pelajaran mengarang, karena sandra selalu mendapatkan kesulitan besar karena ia benar-benar harus mengarang. Sandra merupakan anak yang terlahir dan memiliki Ibu yang bekerja sebagai pelacur. Sandra selalu sabar menghadapi sikap Mamanya karena setiap hari Sandra selalu mendapatkan perilaku yang kasar dari Mamanya
. “..Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama.”
Sandra pun selalu dititipkan oleh Mami (yang Sandra anggap sebagai Neneknya), Mami juga memiliki watak yang pemarah.
“..Jangan rewel anak setan! nanti kamu kuajak ke tempat ku kerja, tapi awas ya? kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!.”
Tahap tengah adalah tahap dimana menampilkan pertentangan atau konflik, peristiwa-peristiwa penting mulai dikisahkan dan konflik berkembang semakin runcing. Kertas yang ada di hadapan Sandra masih terlihat kosong pada menit ke 15, Sandra masih tidak tahu harus menulis tentang apa. “Keluarga Bahagia” selama ini yang Sandra tahu dia hanya tinggal bersama dengan Mamanya tidak ada sosok Papa. Pernah Sandra menanyakan hal itu terhadap Mamanya tetapi balasanya adalah :
“..Tentu saja punya anak setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa  belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
“Liburan ke Rumah Nenek” yang Sandra tahu Nenek  dalam benaknya adalah gambaran seorang wanita tua yang wajahnya penuh dengan kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna tebal. Mami selalu mengajak Sandra ke tempat yang Sandra tidak mengerti yang dipenuhi dengan wanita-wanita dewasa yang tidak canggung lagi untuk berpeluk-pelukan sampai lengket.
Tiba saatnya Sandra menggambarkan “Ibu” yaitu “...gambaran seorang wanita cantik yang selalu merokok dan mabuk-mabukan dan selalu bangun siang” yang selalu berkata kasar terhadap Sandra seperti “..Diam, anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” Mama Sandra juga sebenarnya seorang yang penyayang.
“...Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng dan ayam goreng. Dan setiap kali wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta.” .
Tetapi Mamanya tidak selalu berprilaku manis terhadapnya. Sandra lebih sering melihat Mamanya bertingkah pemarah.
Tahap Akhir berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran tentang bagaimanakah akhir sebuah cerita. Di dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini kesudahan cerita terletak pada “..Empat puluh menit lewat sudah, pelajaran mengarang berlangsung. tetapi belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda.” .Tetapi beberapa teman Sandra sudah banyak yang mengumpulkan dan sudah berjalan meninggalkan kelas.
Setelah waktu habis Ibu Guru Tati menyuruh semua kertas untuk dikumpulkan kedepan. Kertas Sandra pun Ia selipka di tengah-tengah kertas teman-temanya. Ibu Guru Tati tidak mengetahui bahwa di kertas putih dalam pelajaran mengarang itu Sandra hanya menuliskan kata “
“... Ibuku Seorang Pelacur.”

Setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok: yaitu Tempat, Waktu, dan Suasana.
a)      Latar tempat
·       Kelas
“...Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas.”
“...Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas.”
“...Beberapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkan segera berlari keluar kelas.”
·       Rumah
“..Sandra mendapatkan gambaran sebuah rumah berantakan.”
“..Ini titipan si Marti. Aku tak mungkin meninggalkanya sendri di rumah.” “..Di rumahnya sambil nonto RCTI, Ibu Guru Tati memeriksa pelajaran murid-muridnya.”
·       Sekolah
“..Bahkan ketika Sandra pulang dari Sekolah.”
·       Hotel
“..Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomer kamar dan sebuah jam pertemuan, Ibunya akan pulang terlambat,”
·       Plaza
“..Setiap hari minggu, wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini dan plaza itu.”
·       Ruang depan
“..Di ruang depan, Ia muntah-muntah.”
·       Tempat Tidur atau Ranjang
“..Botol-botol beresakan di meja bahkan sampai ke tempat tidur.”
“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika dipindahkan di kolong ranjang.”
“..Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhanya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang.”
b)       Latar waktu
60    menit “..Kalian punya waktu 60 menit.”
10 menit “..Sepuluh menit segera berlalu.”
15 menit “.. Lima belas menit telah berlalu.”
20    Menit “..Dua puluh menit telah berlalu.”
 30 menit “..Tiga puluh menit lewat tanpa permisi.”
·           Malam hari
“..ia pernah terbangun malam-malam.”
“..Suatu malam wanita itu pulang merangkak karena mabuk.”
“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong meja.”
·      Hari Minggu
“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu.”
c)      Latar suasana
·      Hening atau sepi
“..Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati.”
“..Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayaap yang anggun.”
·      Mencekam
Suasana dimana Sandra merasa takut
“..Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras.”
·      Sedih
“..Sandra pernah terbangun malam-malam melihat wanita itu menangis sendirian, dan wanita itu menangis sambil memluk Sandra.”
“.. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama..” Dan pipinya basah oleh air mata.”
·      Haru
“..Kadang-kadang sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji manjadi anak baik-baik.”
·      Senang atau gembira
“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau itu. Disana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng.”
·      Resah
“..Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengeti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.”


Tokoh adalah individu ciptaan atau rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Sedangkan yang dimaksud penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini terdapat 5 tokoh yaitu : Sandra, Bu Guru Tati, Marti (Mama Sandra), Mami, dan anak-anak kelas V SD (teman-teman Sandra). Analisis masing-masing tokoh tersebut adalah sebagai berikut :
Sandra merupakan seorang anak kelas V SD yang berumur 10 tahun yang terlahir sebagai anak seorang pelacur. Karakter Sandra aalah pendiam, lugu, sabar, patuh, penurut dan dia sangat sabar menghadapi sikap Mamanya.
 “..Tapi Sandra 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya.”
“...Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh.”
Tetapi Sandra juga membenci Ibu Tati.
“...Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci, Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang”.
Ibu Guru Tati adalah guru Sandra di kelas V SD, Ibu Guru Tati seorang guru yang selalu memberikan materi tentang pelajaran mengarang yang dibenci oleh Sandra. Ibu Guru Tati pun seorang guru yang sabar, berkacamata tebal dan belum berkeluarga.
“...Dari balik kacamatanya yang tebal, Ibu Guru Tatni memandang 40 anak yang manis”.
“...Di rumahnya, sambil menonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya”.
Marti ini adalah Ibu Sandra yanng bekerja sebagai seorang pelacur, dia sangat cantik tetapi sering merokok dan mabuk-mabukan. Sifatnya dia adalah pemarah, tetapi juga sebenarnya ia memiliki rasa penyayang terhadap Sandra tetapi tidak setiap harinya juga Ia bersifat manis terhadap Sandra.
“...Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berfikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan kanana dan kaki kananya selalu naik keatas kursi.”
“...Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!.”
“...Tentu saja Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krrim sambil berbisik, “Sandra, Sandra...”Kadang-kadang Sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan sebuah cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya untuk berjanji menjadi anak baik-baik .
Mami ini adalah seorang wanita yang wajahnya penuh keriput dan selalu merias dirinya dengan sapuan warna yang tebal
“...Sandra mencoba berfikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan Ke Rumah Nenek” dan yang masuk ke dalam benaknya adalah seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra”.
Mami ini juga adalah orang yang dianggap Sandra sebagai Nenek, padahal Mami ini seorang germo atau mucikari. Sifat Mami ini adalah kasar, pemarah dan juga dia selalu mengancam Sandra.
“...Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempat kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!”.
“...Ini titipan si Marti. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Teman-teman Sandra tidak terlalu banyak diceritakan, tetapi Ibu Guru Tati memandang Anak-anak keas V SD itu atau murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
“...Di rumahnya sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.”

Sudut pandang adalah cara memandang penulis dalam menempatkan dirinya pada posisi tertentu dalam cerita novel tersebut. dalam sebuah novel, sudut pandang terbagi menjadi dua, yaitu Sudut pandang orang pertama dan Sudut pandang orang ketiga.
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah orang ketiga serba tahu, diamana pengarang sama sekali tidak ikut berperan dalam cerpen, namun dapat menceritakan dan menggambarkan dengan jelas situasi perasaan yang dimiliki pelaku. Penyebutan nama atau kata ganti “Ia, dia, mereka” merupakan sudut pandang orang ketiga.
“...Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar di tiup angin kencang. Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya.”

Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah.Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Gaya bahasa dalam cerpen Pelajaran Mengarang yaitu :
Hiperbola
“...Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”.
Kutipan di atas menunjukan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan, seperti pada menulis dengan kepala hampir menyentuh meja, seharusnya cukup ditulis dengan anak-anak itu menulis dengan serius.
Sarkasme
“...Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Dari kutipan diatas penyebut Anak Setan dan Taik Kucing menunjukkan kekasaran dalam berbahasa, bahasa yang seharusnya tidak diucapkan untuk memaki. Meskipun gaya bahasa yang digunakan bersifat Hiperbola dan Sarkasme namun mayoritas gaya bahasa yang digunakan dalam menyampaikan gagasan dan ide pengarang bersifat lugas dan jelas, sehingga semua yang membaca dapat memahami isi cerita tersebut
Amanat yang terkandung dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah bagaimana kita seharusnya bisa merawat anak dengan baik, kalau memang Orang Tua itu sudah terlanjur masuk ke dalam dunia yang tidak baik tetapi Orang Tua itu akan berfikir jangan sampai anak kita juga bernasib sama seperti Orang Tuanya. Memang Tekanan batin sangat dialami oleh Sandra tetapi seburuk-buruknya seorang Ibu dia tetaplah Ibu kita yang menyayangi kita dan melahirkan kita. Sikap yang ditunjukan Sandra adalah selalu patuh terhadap Ibunya walaupun tidak dipungkiri Ia sering mendapatkan kata-kata dan juga perlakuan kasar dari Ibunya.
Banyak nilai moral yang harus di petik dalam cerpen ini, seperti :
“...Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik.”
dalam kutipan ini Mama Sandra menyuruh Sandra agar menjadi wanita yang baik yang tidak seperti Mamanya karena Mamanya tidak ingin kelak Sandra menjadi seperti dirinya, yang hidup di kehidupan malam yang penuh dengan musik-musik keras dan selalu di tonton dengan berjuta pasang mata lelaki.

Komentar

  1. betway fica bonus - Daography 123 온카지노 온카지노 ラッキーニッキー ラッキーニッキー planet win 365 planet win 365 102Sure Fixed 1x2 Casinos & Software Review

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Say No To Sampah Plastik

Kritik Mimetik

Bahaya Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan